Keputusan Supreme Court Amerika Serikat yang mengizinkan pemerintahan Trump untuk mengakhiri Status Perlindungan Sementara atau Temporary Protected Status bagi imigran asal Haiti dan Suriah memicu kepanikan massal di berbagai komunitas. Berdasarkan data hukum yang ada, sekitar 400.000 warga Haiti dan Suriah kini hanya memiliki waktu tiga bulan sebelum menghadapi risiko deportasi. Kondisi ini memaksa ratusan ribu keluarga imigran menghadapi pilihan sulit antara meninggalkan anak-anak mereka yang lahir di Amerika Serikat atau membawa mereka kembali ke negara asal yang masih dilanda konflik berbahaya.
Menurut laporan kebijakan dari National Domestic Workers Alliance, penghapusan status perlindungan ini tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan tetapi juga akan memukul perekonomian domestik secara masif. Dari pantauan redaksi, ada sekitar 740.000 pemegang Temporary Protected Status yang saat ini aktif dalam angkatan kerja Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka mengisi posisi-posisi krusial di sektor pelayanan langsung seperti perawatan lansia, penitipan anak, dan layanan bagi penyandang disabilitas yang saat ini memang sedang mengalami kelangkaan tenaga kerja.
Dampak hilangnya pekerja imigran ini diprediksi akan merembet ke sektor ketenagakerjaan yang lebih luas. Berdasarkan analisis dari Haeyoung Yoon selaku perwakilan National Domestic Workers Alliance, kekosongan pengasuh di dalam keluarga akan memaksa para anggota keluarga, khususnya perempuan, untuk mengambil alih tanggung jawab pengasuhan tersebut secara mandiri. Hal ini dikhawatirkan dapat memaksa sebagian tenaga kerja produktif keluar dari pasar kerja demi mengurus orang tua atau anak-anak mereka di rumah.
Selain sektor perawatan, beberapa industri esensial lain seperti konstruksi, layanan makanan, pemeliharaan bandara, hingga perkantoran terancam kehilangan ribuan pekerja. Menurut data dari kelompok reformasi Fwd.US, para pemegang Temporary Protected Status secara keseluruhan memberikan kontribusi lebih dari 29 miliar dollar AS per tahun bagi perekonomian Amerika Serikat. Khusus untuk imigran asal Haiti dan Suriah, sumbangan ekonomi mereka mencapai 4,4 miliar dollar AS per tahun dengan setoran pajak federal dan lokal yang bernilai sangat fantastis.
Dari pengamatan tim redaksi di lapangan, wilayah seperti Springfield di Ohio diperkirakan akan menjadi salah satu kota yang paling terdampak mengingat warga imigran Haiti mencakup hampir seperempat dari total populasi setempat. Kehadiran para imigran tersebut sejak tahun 2012 terbukti telah membantu memulihkan kota dari kemunduran ekonomi dengan membuka belasan usaha baru dan menciptakan ribuan lapangan kerja. Tokoh masyarakat setempat memperingatkan bahwa ancaman deportasi massal ini secara langsung akan memukul operasional bisnis lokal dan memicu kemunduran ekonomi daerah.